Stereotip, Prasangka, dan Diskriminasi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Di kehidupan bermasyarakat sering dijumpai kelompok – kelompok sosial yang tidak dipungkiri banyak terjadi pertentangan antara anggotanya dalam saling memenuhi kebutuhan. Bagaimana anggota kelompok dapat menerima ketidaksamaan dari kelompok lain dengan segala konsekuensinya. Ketidak sediaan menerima perbedaan orang atau kelompok lain, inilah yang nantinya akan menyebabkan pertentangan antar  individu ataupun kelompok. Terdapat tiga elemen yang saling berhubungan tetapi dapat dibedakan dalam sebuah pertentangan kelompok yaitu stereotip, prasangka, dan diskriminatif.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud dengan pengertian stereotip, prasangka, dan diskriminasi?
  3. Apa saja macam – macam dari stereotip, prasangka, dan diskriminasi?
  4. Bagaimana upaya mengurangi atau meminimalisir ketiga hal tersebut dalam kehidupan sosial?
  5. Tujuan
  6. Mengetahui pengertian dari stereotip, prasangka, dan diskriminasi.
  7. Mengetahui macam – macam dari stereotip, prasangka, dan diskriminasi.
  8. Dapat meminimalisir terjadinya stereotip, prasangka, dan diskriminasi dalam kehidupan sosial.
  9. Manfaat
    1. Bagi mahasiswa
  10. Peka terhadap keadaan dan dapat menjalani kehidupan sosial yang sehat dimana pun berada.
    1. Bagi masyarakat
  11. Peka terhadap keadaan dan dapat menjalani kehidupan sosial yang sehat sebagai bagian dari kehidupan.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  • Stereotip
  1. Pengertian Stereotip

Ada beberapa pengertian stereotip, diantaranya :

  1. Menurut Baron, Branscombe dan Byrne (2008 : 188), stereotip adalah kepercayaan tentang sifat atau ciri-ciri kelompok sosial yang dipercayai untuk berbagi
  2. Franzoi (2008 : 199) Stereotip adalah kepercayaan tentang orang yang menempatkan mereka kedalam satu kategori dan tidak mengizinkan bagi berbagai (variation) individual. Kepercayaan sosial ini dipelajari dari orang lain dan dipelihara melalui aturan-aturan dalam interaksi sosial

Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat

Stereotip merupakan komponen kognitif dari pertentangan kelompok, kepercayaan tentang atribut pribadi yang diakui oleh orang dalam satu kelompok atau kategori social. Stereotip tentang kelompok adalah keyakinan dan harapan bahwa kita fokus akan seperti apa anggota kelompok itu.

Stereotip mempengaruhi bagaimana seseorang memproses dan menginterprestasikan informasi. Stereotip dapat membawa orang untuk melihat apa yang mereka harapkan untuk melihat dan memperkirakan bagaaimana sering melihatnya.

Stereotip sering diartikan sebagai ejekan, juga merupakan gambaran-gambaran atau angan-angan atau tanggapan tertentu terhadap individu atau kelompok yang dikenai prasangka. Individu yang stereotip terhadap suatu kelompok atau golongan, sikap stereotip ini sukar berubah, meskipun apa yang menjadi stereotip berbeda dengan kenyataan. Misalnya : Stereotip mengatakan bahwa orang Yahudi itu lintah darat, penipu. Padahal banyak orang yahudi yang ramah dan jujur.

 

 

 

  1. Macam-macam Stereotip

Stereotip yang paling umum dimasyarakat kita berbasis pada gender dan keanggotaan di kelompok etnik atau pekerjaan. Stereotip gender adalah kepercayaan tentang perbedaan ciri-ciri atau atribut yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Orang lebih respek kepada laki-laki daripada perempuan dan faktor ini memainkan peran penting pada diskriminasi di tempat kerja bagi wanita. Kadang-kadang terjadi perempuan yang memiliki prestasi kerja yang tinggi tidak mendapatkan posisi yang sesuai prestasinya karena dia seorang perempuan. Stereotip gender cenderung mengatakan bahwa perempuan emosional, penurut, tidak logis, pasif, sebaliknya pria cenderung tidak emosional, dominan, logis dan agresif.

Stereotip atas pekerjaan, misalnya guru bijak, artis glamor, polisi tegas dan sebagainya. Stereotip cenderung menggeneralisasikan yang terlalu luas yang tak kenal perbedaan dalam satu kelompok dan persepsi yang kurang akurat pada seseorang. Tidak semua polisi tegas, tidak semua wanita emosional, tidak semua laki-laki dominan, dan tidak semua guru bijak.

 

  1. Timbulnya Stereotip

Orang tua dan orang dewaa lainnya secara tidak langsung menanamkan stereotip sejak dini. Anak-anak sejak lahir sudah diberi label oleh masyarakat menggunakan nama anak laki-laki untuk anak laki-laki dan perempuan untuk anak perempuan. Demikian juga dengan model dan warna pakaian untuk mereka.

Menurut Franzoi (2009 : 199) orang memperlihatkan sikap stereotip dengan maksud :

  1. Berpikir cepat : memberikan informasi dasar untuk tindakan segera dalam suasana tidak tentu, informasi yang kaya dan berbeda tentang individu yang kita tahu secara pribadi, menampakkan berfikir sangat bebas untuk tugas lain.
  2. Efisien dan memberi peluang kepada orang lain bergabung secara kognitif dalam aktivitas kebutuhan lain.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan mendorong timbulnya stereotip, yaitu :

  1. Keluarga perlakuan ayah dan ibu terhadap anak laki-laki dan perempuan yang berbeda. Orang tua mempersiapkan kelahiran bayi yang berbeda atas laki-laki dan perempuan. Mereka juga menganggap bahwa bayi laki-laki kuat, keras tangisannya, sementara bayi perempuan lembut dan tangisannya tidak keras.
  2. Teman sebaya : teman sebaya memiliki pengaruh yang besar pada stereotip anak sejak masa prasekolah dan menjadi sangat penting ketika anak di Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah atas. Teman sebaya mendorong anak laki-laki bermain dengan permainan laki-laki seperti sepak bola, sementara anak perempuan bermain dengan permainan perempuan seperti bermain boneka.
  3. Sekolah : Sekolah memberikan sejumlah pesan gender kepada anak-anak. Sekolah memberikan perlakuan yang berbeda diantara mereka.
  4. Masyarakat : Masyarakat mempengaruhi stereotip anak melalui sikap mereka dalam memandang apa yang telah disediakan untuk anak laki-laki dan perempuan mengidentifikasi dirinya. Perempuan cenderung perlu bantuan dan laki-laki pemecah masalah.
  5. Media massa : melalui penampilan pria dan wanita yang sering terlihat di iklan-iklan TV maupun koran. Tidak hanya frequensi yang lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan tetapi juga pada jenis-jenis pekerjaan yang ditampilkan laki-laki lebih banyak dan lebih bergengsi daripada perempuan.

Dalam kenyataan, stereotip adalah “cepat berfikir” yang memberikan kita informasi yang kaya dan berbeda tentang individu yang kita tidak tahu secara pribadi.

 

  1. Cara Meminimalisir Stereotipe

Jangan hanya memandang suatu kelompok atau individu dari satu sisi saja dan mengabaikan sisi lainnya yang merupakan sebuah kelengkapan dalam diri objek dan dilewatkan. Kita harus menyadari bahwa setiap individu terlahir dengan keunikan tersendiri sehingga tidak perlu disamakan dengan individu yang lain apalagi kelompok.Menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap perbedaan pada suatu kelompok. Maka dari itu sudah saatnya masyarakat lebih objektif dalam menerima sebuah stereotipe yang hadir di tengah kehidupan bermasyarakat. Di antaranya menanamkan rasa toleransi dalam merajut sebuah keberagaman yang dimulai sejak dini, hal ini perlu dilakukan mengingat stereotipe dapat terus-menerus dilestarikan melalui komunikasi yang beredar di kalangan masyarakat, dan dapat diturunkan ke generasi berikutnya

 

 

  • Prasangka
  1. Pengertian prasangka

Prasangka ditujukan bila anggota dari satu kelompok yang disebut “kelompok dalam” memperlihatkan sikap dan tingkah laku negatif dari kelompok lain yang disebut “kelompok luar”

Prasangka adalah penilaian dari satu kelompok atau individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok. Efek dari prasangka adalah merusak dan menciptakan jarak yang luas. Sering dikatakan bahwa prasangka adalah sikap sementara diskriminasi adalah satu tindakan. Prasangka dipengaruhi oleh pilihan tentang kebijakan public. Prasangka memiliki sumbangan terhadap oposisi yang lebih besar terhadap kegiatan pihak yang menyetujui.

Apakah stereotip dan prasangka betul-betul berbeda? Stereotip adalah kognitif dan prasangka adalah afektif. Meskipun dalam kenyataannya keduanya tercermin secara bersama-sama baik kognitif maupun afektif.

Prasangka dapat menjadi salah satu aspek distruktif tingkah laku sosial manusia, sering menghasilkan kegiatan yang menyedihkan, mengerikan dari tindak kekerasan. Prasangka sosial adalah gejala dari psikologi sosial.

 

  1. Macam-macam prasangka

Prasangka tidak terbatas pada kelompok, ras, suku, Prasangka juga terdapat di antara kelompok agama, partai, juga orang yang kegemukan menjadi target prasangka dan stereotip yang negatif, bahkan lanjut usia juga diprasangkai sebagai orang yang tidak mampu lagi secara fisik dan mental.

  1. Racism adalah prasangka ras yang menjadi terlembagakan, yang tercermin dalam kebijakan pemerintah, sekolah, dan sebagainya, dan dilakukan oleh hadirnya struktur kekuatan sosial.
  2. Sexism prasangka yang telah terlembagakan menentang aggota dari salah satu jenis kelamin, berdasarkan pada salah satu jenis kelamin.
  3. Ageism kecenderungan yang terlembagakan terhadap diskriminasi berdasar pada usia, prasangka berdasar pada usia.
  4. Heterosexism keyakinan bahwa heteroseksual adalah lebih baik atau lebih natural daripada homoseksuality.

Sherif menjelaskan bahwa prasangka dimaksudkan sebagai suatu sikap yang tidak simpatik terhadap kelompok luar. Hal ini ditunjukkan dalam jarak sosial yang merupakan suatu posisi yang diberikan oleh para anggota kelompok yang berprasangka itu kepada kelompok lain dalam persoalan simpati.

Semakin bertentangan atau bermusuhan, bahkan saling membenci diantara dua kelompok, maka semakin jauh jarak sosial (social distance). Apabila situasi semacam ini berlangsung cukup lama, jarak sosial ini akan menjadi norma di dalam kelompok itu.

Penelitian menyatakan bahwa prasangka dapat menjadi satu ciri kepribadian umum. Dalam prosesnya, mereka menemukan bahwa orang berprasangka melawan kelompok lain cenderung menjadi berprasangka semua kelompok.

Apakah cirri-ciri dari kepribadian yang mudah berprasangka/ kepribadian authoritarian ditandai oleh : teguh, hambatan, prasangka, dan terlalu menyederhanakan. Autoritarian juga cenderung sangat etnosentrik, yaitu menempatkan kelompoknya sendiri pada pusat perhatian, biasanya dengan menolak kelompok lain.

 

  1. Terbentuknya Jarak Sosial

Pendapat lama menyatakan bahwa jarak sosial itu terbentuk oleh karena adanya pertentangan kelompok atau konflik kelompok yang berkembang dan ini tidak dapat dihindari karena lingkungan budaya yang berbeda.  Ada suatu kecenderungan pada anggota suatu kelompok yang menilai kelompok lain dengan norma atau ukuran yang terdapat didalam kelompok sendiri.

  1. Dari penelitian yang cukup lama, terlihat bahwa jarak sosial yang muncul itu berasal dari kelompok mayoritas. Norma jarak sosial dihembuskan dari kelompok yang dominan sesuai dengan status dan sudut pandangnya.
  2. Disamping itu menurut pengamatan Allport disimpulkan bahwa jarak sosial dalam suatu masyarakat hanya terdapat dalam masyarakat yang heterogen yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok yang memiliki fungsi dan interest yang berbeda-beda.
  3. Adanya rasa superioritas kelompok atau keunggulan kelompok atas kelompok lain. Rasa superioritas bisa bersumber pada agama, geografi, ras, warna kulit dan sebagainya. Anggota kelompok, disini menganggap bahwa kelompok lain berada jauh dibawah kelompoknya.

 

  1. Pembentukan dan Timbulnya Prasangka

 

Prasangka timbul dari adanya norma sosial. Prasangka terhadap orang  Negro sudah dimiliki oleh anak-anak Amerika sejak tahun-tahun prasekolah. Anak menyadari bahwa ia telah termasuk didalam kelompoknya, yaitu keluarganya dan meluas kepada bangsanya. Keluarga sebagai tempat bergabung melarang anaknya untuk bergaul dengan orang Negro karena menurut pendapatnya, orang Negro itu kotor, bodoh, dan sebagainya.  Larangan yang bersifat terus-menerus ini akhirnya berubah menjadi norma pada anak dan norma inilah yang digunakan untuk menilai orang lain.

Pada tahun 1935, Dodd dalam penelitiannya menemukan bahwa jarak sosial yang terbesar terletak pada kelompok keagamaan, sedangkan Pratho dan Melikan menemukan jarak sosial yang terbesar pada kelompok kebangsaan, karena sentiment dan aktivitas kebangsaan kuat sekali pada tahun 1935 itu.

Timbulnya prasangka dapat diperkuat oleh keadaan politik. Individu atau kelompok yang diliputi prasangka memiliki sikap serta pandangan yang tidak objektif dan wajar.

Gordon Allport (1958) menyimpulkan adanya 2 sumber penting timbulnya prasangka. Prasangka pribadi (personal prejudice) terjadi bila anggota dari kelompok sosial lain menerimanya sebagai ancaman terhadap kepentingannya sendiri. Prasangka kelompok (groub prejudice) terjadi bila seseorang sesuai dengan norma kelompok.

 

  1. Sebab-Sebab Timbulnya Prasangka

Orang tidak dengan sendirinya berprasangka terhadap orang lain. Ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan seseorang berprasangka.

  1. Orang berprasangka dalam rangka mencari kambing hitam.
  2. Orang berprasangka karena memang sudah dipersiapkan didalam lingkungan atau kelompok untuk berprasangka.
  3. Prasangka timbul karena adanya perbedaan, dimana perbedaan menimbulkan perasaan superior.
  4. Prasangka timbul karena kesan yang menyakitkan atau pengalaman yang tak menyenangkan.

 

  1. Usaha-Usaha Menghilangkan atau Mengurangi Prasangka

Prasangka

  1. Usaha Preventif : berupa suatu usaha yang ,mencegah agar orang atau kelompok tidak terkena prasangka. Menciptakan suasana yang tenteram, damai, dan jauh dari rasa terkena prasangka. Menanamkan sejak kecil perasaan menerima orang lain meskipun ada perbedaan. Perbedaan bukan berarti pertentangan atau permusuhan. Memperpendek jarak sosial. Sehingga tidak timbul prasangka.
  2. Usaha Kuratif : berupa usaha menyembuhkan orang yang sudah terkena prasangka, berupa usaha menyadarkan. Prasangak adalah hal yang merugikan dan tidak ada yang bersifat positif bagi kehidupan bersama. Usaha-usaha ini dapat dilakukan oleh media masa terutama Koran, tv, radio, dan lain-lain, serta dapat dilakukan oleh para pendidik, orangtua, tokoh-tokoh masyarakat, dan seba

 

  • Diskriminasi
  1. Pengertian Diskriminasi

Theodorson & Theodorson (1979:115-116) mengartikan diskriminasi sebagai “perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial”.

Hak-hak asasi manusia melarang adanya diskriminasi yang merendahkan martabat atau harga diri komunitas tertentu[3], dan bila dilanggar akan melahirkan pertentangan dan ketidakadilan di dalam kehidupan manusia.

Karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi

  • Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama.
  • Diskriminasi tidak langsung, terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan.Diskriminasi ditempat kerja

 

  1. Macam – macam diskriminasi dalam keragaman masyarakat antara lain diskriminasi terhadap[4]:
  2. Suku,bangsa, ras dan gender
  3. Agama dan keyakinan
  4. Ideologi dan politik
  5. Adat dan Kesopanan
  6. Kesenjangan ekonomi
  7. Kesenjangan sosial

 

  1. Permasalahan

 

  1. Diskriminasi Agama

Hubungan antara kelompok agama menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Berulangnya model kekerasan beragama dengan pola yang mirip, merupakan dampak dari tindakan diskriminasi yang dilakukan negara terhadap kelompok agama minoritas. Bahkan, kasus kekerasan beragama tidak lagi diselesaikan melalui kebijakan publik namun menyerahkan sepenuhnya kepada elit politik lokal. dengan keterdiaman pemerintah dan cenderung melokalkan penanganan kasus seperti ini ,mengakibatkan timbulnya main hakim sendiri dari kalangan agama konservatif .

Fenomena kekerasan beragama yang kerap terjadi di daerah menjadikan masyarakat kian permisif terhadap berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama. Sangat disayangkan bahwa pemerintah masih menganggap kasus kekerasan beragama yang terjadi selama ini dalam batas normal.Sementara dari kelompok agama yang melakukan aksi kekerasan melakukan pembenaran dengan doktrin teologi. Bahaya besar apabila menganggap kekerasan agama yang terjadi ini sebagai sesuatu yang normal .

Sepanjang 2010, aksi kekerasan masih terjadi di seputar masalah pendirian rumah ibadah. Laporan CRCS menemukan ada 39 rumah ibadah yang dipersoalkan, sebagian besar menyangkut keberadaan gereja yang dipermasalahkan oleh sebagian umat muslim. Menariknya, 70% kasus terkonsentrasi di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Cukup memprihatinkan, 17 kasus kekerasan fisik terjadi dalam persoalan rumah ibadah tersebut. Sebagian dari konflik rumah ibadah berujung kekerasan. Kasus persoalan rumah ibadah selama tahun 2010 meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2009 yang hanya ditemukan 18 kasus,[5].

Persoalan izin pendirian masjid menjadi pemicu utama munculnya kasus-kasus persoalan rumah ibadah. Sebanyak 24 kasus mengandung unsur belum adaya izin rumah ibadah, sedangkan 4 kasus menyangkut rumah ibadah yang telah memiliki izin, tetapi tetap saja dipersoalkan. “Kenyataannya masalah seputar rumah ibadah tidak saja menyangkut kerukunan beragama, tapi juga kebebasan beragama,” katanya.

 

 

 

 

  1. Diskriminasi Ras dan Etnis

Adanya perbedaan ras atau etnis tidak dengan sendirinya berarti terdapat perbedaan hak dan kewajiban antar kelompok ras dan/atau etnis dalam masyarakat dan negara. Setiap warga negara berhak memperoleh perlakuan yang sama untuk mendapat hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan, tanpa membedakan ras dan etnis[6].

Berkaca pada sejarah dengan kasus yang terjadi pada negara-negara maju ,yang dahulunya sebagai pendatang yang memiliki kepentingan ,diskriminasi rasial dan Etnis terjadi pada afrika dengan sistem apartheid yang dijalankan inggris, pengusiran Etnis Apache di amerika dan merelokasi tanah ulayatnya ,serta etnis aborigin di Australia yaitu dengan menempatkannya pada suatu daerah yang mengesampingkan sisi religio magis dari tanah ulayatnya pula ,serta Myanmar dengan Rhohingnya dengan pengusiran yang bermotif ekonomi dan SARA ,termasuk Indonesia dengan pembagian aturan hukum dalam suatu golongan berdasarkan ras dan etnis yang diterapkan penjajah belanda .Namun setelah indonesia merdeka ,diskriminasi terjadi oleh pemerintah pada hak-hak masyarakat suku terpencil memperoleh pendidikan yang layak dan diambilnya hak adat setempat akibat dari pengerukan sumber daya alam ,serta setengah hatinya program pembauran masyarakat tiong hoa ,karena masih timbulnya kecurigaan akan mudahnya akses birokrasi etnis keturunan sehingga mengakibatkan lolosnya warga negara asing keturunan memperoleh kartu identitas .

 

  1. Diskriminasi Gender

Adanya perbedaan antara hak dan kewajiban lelaki dan perempuan dalam berbagai sektor .serta dikesampingkannnya kodrat wanita dalam aturan konstitusi negara , dalam hal cuti haid yang dipersoalkan ,Cuti melahirkan ada, namun justru menjadi kerentanan perempuan untuk diPHK .Serta pembatasan usia masa kerja hanya dua tahun ,karena dianggap sudah masuk usia perkawinan dan berkeluarga, sehingga nanti hamil melahirkan yang menurut perusahaan justru menjadi tidak efisien. beban keibuan, beban di dalam rumah tangga, apalagi kalau suami-istri jobless kehilangan kerja yang akan sangat terasa juga perempuan, beban mengurus kesehatan, membesarkan dan bertanggung jawab terhadap pendidikan anak.

Disatu pihak seakan-akan kita diberi keterbukaan proses liberalisasi, dan persamaan hak dalam regulasi, namun dalam konteks politiknya sebetulnya kita ditutup habis.Kebanyakan mereka tidak memikirkan kesehatan pribadi. Perempuan lebih banyak peduli dan mengayomi kepentingan banyak pihak. Hal ini seharusnya membuka mata pemerintah dan masyarakat untuk lebih menghormati dan melindungi, karena perjuangannya akan terhenti kalau dia celaka. Diharapkan pegiat pembela perempuan mampu bersikap tegas dan proporsional.

 

 

 

  1. Diskriminasi Dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, tidak jarang terdapat kasus-kasus diskriminasi yang dilakukan dan dialami oleh orang-orang tertentu. Berikut contoh-contohnya:

 

  • Orang tua yang melahirkan anak yang cacat, kemudian orang tua tersebut memperlakukan anaknya yang cacat tersebut dengan cara yang berbeda dari anaknya yang lain yang tidak mengalami cacat, atau bahkan menitipkannya kepada orang lain karena merasa malu. Padahal bagaimanapun anak tersebut adalah titipan Tuhan, yang harus dipertanggung jawabkan kelak.
  • Saat menjalani kegiatan belajar mengajar di kelas, seorang guru lebih memperhatikan muridnya yang pandai ketimbang murid lainnya yang biasa-biasa saja. Bahkan, ada juga guru yang lebih memperhatikan murid perempuan ketimbang murid laki-laki. Padahal semua murid memiliki hak dan kewajiban yang sama yang harus dipenuhi.
  • Ada juga kasus diskriminasi di area parkir kendaraan. Terkadang ada saja tukang parkir yang lebih memilih kendaraan-kendaraan yang bagus untuk ia parkirkan, ketimbang kendaraan-kendaraan yang lebih jadul. Memang diskriminasi dapat terjadi dimana saja.
  • Nih ada lagi kasusnya. Di tempat perbelanjaan, terkadang ada petugas atau staff yang akan lebih dulu melayani calon pembeli yang kelihatan “WAH” ketimbang melayani calon pembeli yang berpenampilan biasa-biasa saja. Hmm, itu juga termasuk diskriminasi loh…
  • Contoh lain, ada di rumah sakit. Penyakit bisa menyerang siapa saja, tidak memandang dia anak kecil atau orang dewasa, bahkan kaya ataupun miskin. Ketika seseorang hendak berobat ke rumah sakit, terlebih dahulu harus menyelesaikan urusan biaya berobat ke bagian administrasi. Biasanya rumah sakit akan terlebih dahulu melayani pasien yang memiliki biaya pengobatan ketimbang pasien yang tidak memiliki biaya rumah sakit. Ketika hanya tersisa satu ruang perawatan, biasanya rumah sakit akan memberikannya kepada orang yang memiliki biaya untuk perawatan, padahal orang yang tidak memiliki biaya harus lebih dahulu mendapatkan perawatan. Alhasil kejadian tersebut menyebabkan semakin memburuknya penyakit pasien bahkan kematian bukan tidak mungin bisa terjadi, karena tidak segera mendapat penanganan dari dokter. Sungguh miris…
  • Kalian tahu istilah ODHA? Ya, ODHA singkatan dari “Orang Dengan HIV AIDS”. Penderita ODHA biasanya tidak terlalu nampak gejalanya bila dilihat secara kasat mata. Tetapi, bila ODHA sudah ketahuan bahwa dia menderita penyakit tersebut, biasanya orang disekelilingnya akan menjauhinya, tidak terkecuali orang terdekatnya seperti teman, sahabat, bahkan keluarga. Padahal, hanya dengan berdekatan dengan ODHA tidak akan menularkan penyakit HIV AIDS tersebut, jadi tidak bijaksana jika kita mendiskriminasi orang-orang yang menderita HIV AIDS.

 

  1. Cara meminimalisir Diskriminasi
  2. Belajar untuk Tidak Membenci

Ada pandangan yang mengatakan bahwa prasangka dibawa seseorang sejak lahir.Sedangkan pandangan lain menegaskan bahwa sikap negatif tersebut diciptakan,bukan dibawa dari lahir.Anak-anak memiliki prasangka dengan mempelajari dari orang tuanya serta juga dari media massa.Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi prasangka adalah dengan melarang orang tua atau orang dewasa lain untuk menurunkan sikap negatifnya tersebut terhadap anak-anaknya.Namundalam prakteknya,hal ini tidaklah sesederhana yang dibicarakan.Langkah pertama adalah dengan membantu orang tua atau orang dewasa untuk menyadari prasangka yang dimilikinya,kemudian dapat memotivasinya lebih jauh untuk tidak menularkannya pada anak-anaknya.Prasangka yang dimiliki membuat seseorang hidup tidak cukup tenang karena selalu ada perasaan was-was kalau-kalau ia berjumpa dengan outgrup yang menjadi target prasangkanya.

  1. Direct Intergroup Contact

Pettigrew (1981,1997 dalam Baron dalam Byrne,2003) menyatakan,bahwa prasangka yang terjadi antarkelompok dapat dikurangi dengan cara meningkatkan intensitas kontak antara kelompok yang berprasangka tersebut.Apa yang dijelaskannya ini terkenal sebagai teori contact hypothesis.Dasar argumentasinya adalah bahwa: pertama,meningkatnya kontak memungkinkan terjadi pemahaman yang lebih mendalam mengenai kesamaan yang mungkin mereka miliki.Kedua,walaupun stereotip resisten terhadap perubahan,namun stereotip dapat berubah jika ada sejumlah informasi yang tidak konsisten atau bisa juga karena menemukan adanya sejumlah pengecualian dalam stereotip yang dimilikinya.Ketiga,adalah bahwa meningkatnya kontak dapat menjadi counter terhadap munculnya illusion of outgrup homogeneity.

 

  1. Rekategorisasi

Rekategorisasi adalah melakukan perubahan batas antara ingrup dan outgrupnya.Sebagai akibatnya,bisa saja seseorang yang sebelumnya dipandang sebagai outgrupnya,tetapi kemudian menjadi ingrupnya.Rekategorisasi ini berpotensi untuk mengurangi prasangka yg sebelumnya ada.Seperti yang diungkapkan Gaertner dan koleganya (1989,1993 dalam Baron dan Byrne,2003) dalam teorinya mengenai Common in-grup identity model.Teori ini menjelaskan bahwa jika individu dalam kelompok yang berbeda melihat diri mereka sebagai anggota dari entitas sosial yang tunggal,maka kontak positif akan meningkat dan intergrupbias akan berkurang.

 

  1. Intervesi Kognitif

Kecenderungan untuk melihat keanggotaan orang lain dalam berbagai kelompok sering menjadi kunci penyebab munculnya prasangka.Oleh karena itu,ada sejumlah intervensi untuk mengurangi dampak stereotip yang pada akhirnya dapat mengurangi kecenderungan prasangka dan diskriminasi.Pertama,dampak dari stereotip dapat dikurangi dengan memotivasi individu untuk tidak berprasangka.Kedua,melakukan sebuah intervensi untuk mengurangi kecenderungan orang untuk berfikir stereotip.

 

  1. Social Influence sebagai Cara Mengurangi Prasangka

Kenyataan bahwa sikap terhadap kelompok ras atau kelompok etnis tertentu bisa dipengaruhi oleh lingkungan sosial,maka pengubahan sikap tersebut juga bisa dengan memanfaatkan pengaruh sosial yang ada.Teori ini dapat memberikan arahan kepada kita mengenai pendekatan intervensi yang dapat dikembangkan untuk mengubah sikap terhadap kelompok/ras tertentu.

 

 

  1. Coping Terhadap Prasangka

Sejumlah studi menemukan banyaknya efek negatif yang ditemukan pada individu yang menjadi target diskriminasi.Individual yang tergolong minoritas sering mendapatkan pengalaman yang disebutnya sebagai ‘stereotype threat’ yaitu kesadaran orang-orang minoritas bahwa ia akan dievaluasi berdasarkan status minoritasnya.Kondisi semacam ini tentu saja dapat mengganggu berkembangnya rasa percaya diri dalam berbagai setting sosial yang ada.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Didalam kehidupan bermasyarakat banyak sekali perbedaan ataupun pertentangan antara individu ataupun kelompok masyarakat. Terdapat tiga elemen yang saling berhubungan tetapi dapat dibedakan dalam sebuah pertentangan kelompok yaitu stereotip, prasangka, dan diskriminatif.

Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.

Prasangka adalah penilaian dari satu kelompok atau individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok. Efek dari prasangka adalah merusak dan menciptakan jarak yang luas. Sering dikatakan bahwa prasangka adalah sikap sementara diskriminasi adalah satu tindakan. Prasangka dipengaruhi oleh pilihan tentang kebijakan public. Prasangka memiliki sumbangan terhadap oposisi yang lebih besar terhadap kegiatan pihak yang menyetujui.

Sedangkan diskriminasi yaitu perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas social.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber :

Suardiman, Siti Partini. 2014. Psikologi Sosial. Yogyakarta

http://sigitdwisaputro.blogspot.com/2013/11/diskriminasi-dalam-kehidupan-sehari-hari.html

http://zamanulakhyatamami.blogspot.com/2012/11/diskriminasi-agamarasethnis-gender.html

Leave a Reply

*

41 + = 48